Rasulullah menyatakan, “Ada empat jenis hati, yaitu: hati yang bersih dan bercahaya yang di dalamnya bagaikan ada sebuah lampu yang menerangi, inilah hati orang-orang yang beriman; hati yang hitam dan sesat, adalah hati orang-orang yang ingkar; hati yang menggantung, yang melayang-layang antara keingkaran dan keimanan, merupakan hati munafik; dan hati yang bermuka dua, dengan satu wajah mengarah pada keimanan dan wajah yang lain mengarah kepada keingkaran. Keimanannya didukung oleh alam kesucian dan kesalehan, bagaikan sebuah tanaman yang dibersihkan dengan bantuan air, sedangkan keingkarannya didukung oleh alam kejahatan, bagaikan sebuah borok yang diperparah dengan luka bernanah. Akhimya, apa pun yang mendominasi dia akan mengendalikannya.”

Perbedaan antara keempat jenis hati ini terjadi karena hati merupakan produk dari ruh dan nafs, dan mendapat tarikan dari keduanya. Ruh ingin menarik nafs ke dalam lingkungannya dan begitu juga sebaliknya, dan keduanya senantiasa terlibat dalam peperangan. Kadang-kadang ruh mendominasi, yang membawa nafs keluar dari tempatnya yang rendah menuju ke tingkat perkembangan ruh yang lebih tinggi. Kadang-kadang nafs memenangkannya, yang membawa ruh jatuh dari ketinggian kesempurnaan menuju kepada kesalahan yang dalam. Hati selalu mengikuti bagian yang dominan sampai otonomi kehidupan seseorang digerakkan dalam salah satu tadi atau oleh yang lain, yang kemudian hati akan mendiaminya.

Situasi situasi itu melibatkan peralihan yang teratur antara kebahagiaan dan kesengsaraan. Jika kebahagian ukhrawi dan kepuasan azali tiba, ruh menjadi kuat dan mengalahkan nafs serta balatentaranya, dan terbebas dari pergulatan tersebut. Ruh naik dari titik ciptaan yang rendah menuju ke titik Keabadian yang tinggi, beralih menjauhi nafs dan hati menuju pada kesaksian (musyahadah) terhadap wilayah Yang Mahakuasa. Selain itu, hati dalam mengikuti perkembangannya dari tingkat perkembangan hati, yang padanya perubahan (taqallub) merupakan suatu keharusan, menuju ke tingkat perkembangan ruh dan mendiami tempat ruh berada, bagaikan seorang anak kecil yang mengikuti ayahnya.

Nafs, yang juga mengikuti hati seperti seorang anak kecil, muncul dari tempat dia berada, alam sifat-sifat kebendaan, dan mengikuti perkembangan hati. Hati yang seperti itu adalah hati orang orang beriman yang baginya tak ada lagi unsur unsur politeisme atau kekafiran. Allah melarang, jika situasi bertolak belakang dengan hal tadi, pengaruh-pengaruh penderitaan dan kesengsaraan azali didapatkan, yang bisa membuat ruh tersesat dan hanya akan memperkuat nafs. Hati akan menggerakkan ruh kepada alamnya sendiri; ruh akan turun dari tingkat perkembangannya ke tingkat perkembangan hati, hati akan berkembang dari tingkat perkembangannya ke wilayah nafs; dan nafs akan turun dan mengakar di dalam lingkungan sifat kebendaan. Hati yang seperti ini menjadi hati orang yang ingkar, yaitu orang yang sesat, yang tenggelam ke dalam gelapnya kekafiran. Jika tak ada bantuan dan tarikan sebagaimana adanya, dan dengan nafs yang kuat, hati akan terombang-ambing di tengah, tetapi lebih cenderung ke arah nafs. Inilah hati orang yang bersikap munafik. Jika ruh lebih kuat, atau jika tarikan dari ruh dan nafs sama, maka hati lebih cenderung ke arah ruh, atau bersikap netral berkenaan dengan kedua bagian itu, dan keimanan serta keingkaran tetap ada di dalanmya. Inilah hati yang bermuka dua, orang yang memiliki keimanan dan di sisi lain juga bersikap munafik.

Hatim Assam berkata, “Hati terdiri dari lima jenis, yaitu hati yang mati, hati yang sakit, hati yang lalai, hati yang tertutup dan hati yang bersih. Hati yang mati adalah hati yang ingkar, hati yang sakit adaIah hati yang senantiasa berbuat dosa, hati yang lalai adalah hati yang gagal, dan hati yang tertutup adalah hati orang orang yang senantiasa berbuat kejahatan: ‘Mereka berkata: Hati kami tertutup’ (11: 88), dan hati yang bersih adalah hati yang sadar dalam tindakan-tindakannya, disibukkan dengan ketaatan dan ketakutan terhadap Sang Raja Yang Mahakuasa.”

Sari Saqati berkata, “Lidahmu adalah penyambung dari hatimu, dan wajahmu adalah cerminan darinya. Pada wajahmu ditemukan apa yang ada di dalam hatimu.”

Ia juga berkata, “Ada tiga jenis hati, yaitu: hati seperti gunung yang tidak dapat bergerak; hati seperti pohon yang tertanam pada akarnya tetapi dapat bergoyang ke mana-mana karena angin; dan hati seperti seekor burung yang terbang ke mana saja yang dia inginkan.

Selanjutnya ia mengatakan, ” Hati orang yang berbudi berhubungan dengan ketegasan dan kedekatan pada Allah menuju pada kedudukan yang tinggi.” Inilah yang dikatakan bahwa kebaikan dari orang-orang yang berbakti adalah pegangan bagi kedekatan, dalam hal ini kebaikan menjadi pegangan apabila seseorang mendapatkan kepuasan melalui kebaikan tersebut, dan apa pun yang memberikan kepuasan diri akan menghambat perkembangan hati.

Orang-orang yang berbakti adalah mereka yang telah menempatkan dirinya di dalam surga, sebagaimana yang diperlihatkan dalam Al-Qur’an, Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan.” (LXXXII: 13). Oleh karena itu hatinya akan berhubungan dengan tujuan akhir. Sebaliknya, pandangan orang yang maju, mereka yang dekat kepada Allah, terpusat pada yang azali, yang tidak akan pernah menempatkan dirinya pada apa apa yang dapat mereka raih. Oleh sebab itu, karena tidak menempatkan dirinya pada apa pun, mereka akan tertarik ke dalam surga.

—(ooo)—